Saham dan Kripto Anjlok, Saatnya Investasi ke P2P Lending?

1 min read

Inilah Risiko-Risiko Investasi di P2P Lending

Tengah populer di kalangan investor ritel, investasi aset kripto dikabarkan anjlok beberapa hari terakhir. Begitupun dengan investasi saham yang turut merosot.

Penurunan dipicu oleh sederetan masalah, melansir CNBC Indonesia, masalah mulai dari meningkatnya inflasi hingga tindakan keras Cina terhadap cyrptocurrency yang membuat investor takut.

Harga bitcoin dikabarkan merosot 30%. Ditambah lagi oleh Elon Musk, CEO Tesla yang mengirim sinyal mengenai penggunaan Bitcoin pada perusahaan mobil listriknya.

Sementara itu data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, perdagangan Jumat (21/05/2021) IHSG ditutup minus 0.42% di posisi 5.773. turunnya pasar saham disebabkan adanya sentimen mengenai dampak pandemi virus corona yang dikhawatirkan kasusnya meningkat pascalibur Lebaran.

Keadaan tersebut tentu menghasilkan kerugian pada sejumlah investor. Yang menjadi masalah adalah apabila investor tersebut “latah” melakukan investasi tanpa mengetahui fundamental instrumen dan tujuan keuangan yang jelas.

Lalu, adakah alternatif investasi yang bisa dimanfaatkan disituasi demikian?

Peer to peer lending (P2P Lending) bisa menjadi salah satu alternatif investasi di masa seperti ini. Pasalnya, P2P Lending umumnya menyalurkan dana kepada pelaku usaha yang membutuhkan modal. Dengan demikian, dana diputar untuk keperluan usaha.

Perlu diperhatikan, semua instrumen investasi memiliki risiko investasi, termasuk P2P Lending. Maka dari itu penting untuk selektif dalam memilih perusahaan investasi P2P Lending. Tidak hanya fokus pada keuntungan yang didapat melainkan pada penanganan risiko yang dilakukan.

Salah satu P2P Lending yang menawarkan keuntungan bersaing dengan instrumen investasi lainnya adalah Amartha.

Amartha adalah perusahaan investasi P2P Lending yang menghubungkan dan memberdayakan perempuan pengusaha mikro di pedesaan.

Amartha menawarkan keuntungan secara materi dan sosial. Secara materi, investor akan mendapatkan bagi hasil sampai 15% flat per tahun. Sementara secara sosial, investor telah mendorong perempuan di pedesaan untuk mandiri dan sejahtera secara ekonomi melalui modal yang diberikan.

Adapun perihal penanganan risiko investasi, setiap perempuan pengusaha mikro yang bergabung akan mendapatkan pendampingan dan pelatihan usaha secara rutin. Hal tersebut bertujuan agar dana digunakan secara tepat guna sehingga risiko gagal bayar atau terlilit hutang dapat diminimalisir.

Selain itu, Amartha mengadaptasi sistem Grameen Bank milik Muhammad Yunus yang mana setiap mitra usaha yang bergabung harus membentuk kelompok yang terdiri dari 10-20 orang. Pembentukan kelompok ditujukan untuk memudahkan monitoring usaha dan edukasi serta pengembalian pinjaman.

Sebelas tahun berdiri, Amartha telah menyalurkan 3.64 Triliun kepada 674.504 perempuan pengusaha mikro di 18.900 desa di Indonesia dengan TKB 90 berada di angka 94.09%.

Tertarik investasi di Amartha?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *