Mengenal Saham Blue Chip dan Cara Belinya | Timeslib

4 min read

Mengenal Saham Blue Chip dan Cara Belinya | KlikCair

Waktu baca: 5 menit

Saham blue chip adalah saham lapis satu, atau saham perusahaan besar dengan laba yang stabil. Nah, istilah blue chip itu sendiri berasal dari permainan poker, di mana ada tiga jenis koin atau chip: merah, putih, dan biru. Dalam dunia poker, koin biru alias blue chip ini punya nilai paling besar dibandingkan warna lainnya.

Karakteristik

Karakteristik. Photo by @austindistel

Kalau kamu sudah lama tertarik ingin mencoba investasi saham, kamu perlu ketahui juga ciri-ciri saham blue chip. Cara ini pun bisa kamu terapkan sebagai cara membedakan saham gorengan dengan saham blue chip supaya investasimu optimal dan menguntungkan, dan pastinya kamu terhindar dari risiko kerugian karena berinvestasi di saham gorengan.

Memiliki kapitalisasi besar

Seperti yang dijelaskan dalam definisi saham blue chip di atas, saham jenis ini adalah saham perusahaan dengan laba yang stabil. Nah, stabilitas labanya itu bisa dibuktikan dengan modal, aset, dan kapitalisasi pasar.

Yang dimaksud dengan kapitalisasi pasar adalah harga sebuah perusahaan kalau “dibeli” utuh, alias total harga dari harga saham dikalikan dengan jumlah lembar saham yang beredar. Lalu, berapa sih nilai kapitalisasi yang bisa disebut sebagai “besar”?

Kalau mengacu pada penggolongan yang berlaku, perusahaan dengan kapitalisasi besar adalah perusahaan yang nilai kapitalisasinya di atas Rp 10 T. Sedangkan kalau nilainya berkisar di antara Rp 500 M dan Rp 10 T, artinya saham perusahaan tersebut masuk kategori saham kelas dua. Untuk nilai kapitalisasi di bawah Rp 500 M, artinya saham tersebut adalah saham lapis tiga.

Sudah lama ada di bursa saham

Meskipun sebenarnya berapa lama perusahaan sudah memperdagangkan sahamnya di bursa saham dan masuk ke dalam index saham gabungan tidak serta-merta membuat saham perusahaan tersebut masuk ke dalam kategori saham blue chip, tapi saham jenis ini yang ada saat ini memang dimiliki perusahaam yang sahamnya sudah berada di bursa dalam jangka panjang. Di samping itu, saham perusahaan tersebut pun menunjukkan peningkatan laba yang signifikan.

Ramai dperdagangkan (likuid)

Apabila sebuah saham perusahaam ramai diperdagangkan, artinya saham tersebut likuid. Sebab, artinya ada banyak lembaga maupun investor perorangan yang memiliki serta memperdagangkan saham tersebut. Nah, kalau kamu list saham blue chip, kamu bisa ketahui kalau saham jenis ini selalu ada di dalam daftar saham paling aktif di bursa.

Pernah dengar istilah LQ45? Istilah tersebut adalah indeks yang berisi saham likuid, dan rata-rata saham blue chip selalu berada di dalam indeks tersebut. Meski begitu, kamu juga perlu cermat ketika mengecek index saham hari ini maupun indeks LQ45 karena bisa jadi ada saham yang masuk ke dalam LQ45 karena sektornya sedang ramai saja, dan bukan karena ada peningkatan laba.

Merupakan saham dari perusahaan besar yang jadi market leader

Nah, kalau kamu masih kebingungan mengidentifikasi saham blue chip lewat ciri-ciri di atas, atau lewat perhitungan super njelimet seperti cara menentukan stop loss dan take profit saham ataupun cara menentukan support dan resistance saham, kamu bisa cukup gunakan satu tolak ukur ini saja, kok: saham jenis ini hampir selalu berasal dari perusahaan besar yang jadi market leader di sektor bisnisnya. Contohnya PT Telkom (TLKM) dan Astra (ASII). Apalagi kalau perusahaannya memonopoli pasar, bisa dijamin sahamnya pasti saham blue chip.

Baca juga: Strategi Investasi Ibu Rumah Tangga Pakai Uang Belanja

Daftar Saham Blue Chip di Indonesia

Saham
Daftar saham bluechip. Photo by @chrisliverani

Di sini, kamu mungkin sudah bisa simpulkan bahwa saham blue chip adalah saham yang ada di dalam indeks LQ45, meskipun tidak berarti semua saham di indeks LQ45 adalah saham jenis ini. Jadi, bisa dikatakan pula kalau sebagian besar saham di LQ45 adalah saham blue chip.

Oh iya, sebenarnya bursa sendiri tidak pernah benar-benar merilis laporan atau daftar resmi perusahaan blue chip. Meski begitu, jika melihat dari performa saham maupun perusahaan, berbagai media bisnis sudah sepakat bahwa berikut ini adalah 10 saham jenis ini yang ada di Indonesia.

  1. Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI).
  2. Aneka Tambang Tbk (ANTM).
  3. Astra International Tbk (ASII).
  4. Bank Central Asia Tbk (BBCA).
  5. Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
  6. Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
  7. Bank Mandiri Persero Tbk (BMRI).
  8. Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE).
  9. Gudang Garam Tbk (GGRM).
  10. HM Sampoerna Tbk (HMSP).

Di samping itu, masih ada juga Adaro Energy Tbk (ADRO), AKR Corporindo Tbk (AKRA), Bank Tabungan Negara Persero Tbk (BBTN), BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR),Barito Pasific Tbk (BRPT), Bumi Resource Tbk (BUMI), Global Mediacom Tbk (BMTR), Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan United Tractors tbk (UNTR).

Selain itu, kamu juga bisa temukan sederet saham blue chip syariah yang terdaftar dan diperdagangkan di Jakarta Islamic Index (JII) dan Jakarta Islamic Index 70, lho! Beberapa saham syariah yang masuk ke dalam kategori saham jenis ini seperti:

  1. Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).
  2. Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).
  3. Mayora Indah Tbk (MYOR).
  4. Waskita Karya Tbk (WSKT).
  5. Pakuwon Jati Tbk (PWON).

Cara Membeli Saham Blue Chip

Saham bluechip investasi jangka panjang
Cara beli saham. Photo by Rawpixel

Makin berminat ingin membeli saham blue chip? Kalau begitu, kamu perlu ketahui terlebih dahulu cara membeli saham blue chip.

Pada dasarnya, cara membeli saham jenis ini sama saja dengan seperti ketika kamu membali saham seperti umumnya, kok! Artinya, kamu perlu membuka rekening saham dulu di perusahaan sekuritas atau broker terpercaya yang terdaftar sebagai Anggota Bursa di Bursa Efek Jakarta (BEI).

Setelahnya, kamu perlu membuka Rekening Dana Nasabah (RDN) di bank, lalu membuka Rekening Bank di broker atau perusahaan sekuritas. Untuk melakukan transaksi jual-beli saham, kamu perlu setorkan dana terlebih dahulu ke RDN-mu. Kalau kamu sudah memiliki RDN dan menyetorkan danamu ke sana, baru deh kamu bisa mulai order beli maupun order jual saham yang kamu inginkan.

Mengapa Pilih Saham Blue Chip?

saham blue chip adalah
alasan membeli saham bluechip. Photo by Pexels

Saham yang memegang status sebagai saham blue chip tentu memiliki keunggulan lebih dibandingkan saham lapis dua, apalagi lapis tiga. Meski begitu, bukan berarti saham jenis ini adalah satu-satunya jenis saham yang menguntungkan – kalau begitu, untuk apa ada saham lapis dua dan lapis tiga, kan?

Hanya saja, memang saham blue chip lebih aman dibandingkan saham lapis dua maupun lapis tiga. Salah satunya adalah karena risiko fluktuasi harganya yang lebih rendah. Meski demikian, kamu juga harus ingat kalau harga saham jenis ini pun tidak murah.

Sementara itu, saham lapis dua dan lapis tiga punya harga yang cenderung lebih murah. Bahkan, ada beberapa momen di mana valuasi saham lapis dua mengalami peningkatan. Jadi, coba bayangkan kalau kamu punya saham lapis dua yang dibeli saat nilainya sedang “jatuh”, lalu valuasinya kemudian meningkat hingga di atas 50 persen. Pasti menguntungkan, kan? Hanya saja, tentu kenaikannya pun harus wajar. Kalau tidak, BEI akan men-suspend saham tersebut sehingga tidak bisa diperdagangkan, yang pasti juga akan merugikanmu sebagai seorang trader.

Oleh karena itu, kamu perlu lebih cermat saat akan membeli saham lapis dua, apalagi kalau kamu mencoba melirik saham lapis tiga. Karena parahnya, saham lapis tiga sering kali jadi saham gorengan yang “disulap” oleh bandar agar kelihatan menguntungkan. Padahal, saham kategori ini punya kinerja buruk dan tidak likuid.

Nah, sekarang kamu sudah lebih paham definisi saham blue chip adalah apa, ciri-ciri, dan cara belinya, kan? Semoga informasinya bisa membuatmu membuat keputusan investasi dengan lebih bijak, ya! 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *