Mengenal Pom-pom Saham dan Cara Kerjanya

1 min read

Investasi Saham, Investasi Penuh Risiko

Sejak investasi saham semakin populer di masyarakat pada tahun 2020 kemarin, istilah pom pom saham pun semakin sering disebut oleh para pelaku pasar saham. Istilah pom pom saham ini dipakai untuk menggambarkan perilaku sejumlah influencer yang kerap membahas hingga merekomendasikan saham di media sosial.

Pom-pom saham sendiri bukanlah suatu fenomena baru. Di Amerika Serikat, praktek pom-pom saham dikenal dengan istilah pump and dump yang tidak lain berarti “pompa dan buang”. Istilah pom-pom kemungkinan besar merupakan serapan dari frasa pump-pump manipulation yang kerap diajarkan di kelas investasi mengenai etika investasi.

Pada dasarnya, pompom saham merupakan kegiatan menyebutkan saham tertentu agar menjadi perhatian banyak orang, yang dibumbui dengan hal-hal positif sehingga orang tertarik membeli. Pompom ini biasanya dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak berhubungan dengan emiten atau perusahaan sekuritas dan tidak memiliki sertifikasi profesi pasar modal untuk memberikan rekomendasi.

Pompom saham semakin marak karena adanya perubahan perilaku mayoritas investor. Dari sisi demografi investor, terjadi peningkatan investor usia muda yang biasanya dengan hal-hal yang berkaitan dengan media sosial, smartphone, dan juga komunitas.

Orang Kaya Ramai-Ramai Beli Klub Bola, Investasi Gaya Baru?

Well, apabila yang melakukan pom-pom saham adalah orang-orang yang tidak memiliki banyak pengikut, mungkin hanya segelintir orang yang percaya. Namun, jika yang melakukannya orang berpengaruh atau influencer yang memiliki banyak pengikut, terutama yang berpengalaman di dunia pasar modal, bisa jadi akan cukup banyak orang yang percaya dan mengikuti “saran”nya.

Yang menjadi masalah adalah biasanya oknum yang melakukan pom-pom saham ini merekomendasikan suatu saham tanpa berlandaskan hasil analisis, baik teknikal maupun fundamental. Mereka cenderung hanya memberi pandangan subjektif mengenai hal-hal baik, tanpa menjelaskan risiko yang bisa terjadi.

Parahnya lagi, kebanyakan pengikutnya adalah investor saham pemula yang belum tentu sudah memahami cara kerja pasar saham. Bisa jadi ia bahkan  belum memiliki rencana trading yang matang dan tidak tahu menahu adanya risiko yang dapat menimpanya.

Mengapa Sebuah Saham Menjadi Undervalued?

Oknum yang melakukan pom-pom saham biasanya telah memiliki saham tersebut di harga rendah, sehingga ketika targetnya berbondong-bondong membeli saham tersebut dan membuat harganya melambung, oknum tersebut menjual sahamnya agar mendapat keuntungan (capital gain) yang cukup besar.

Nah, bayangkan bila oknum yang melakukan pom-pom saham memiliki saham tersebut dalam jumlah besar. Saat ia menjual seluruh sahamnya, harga saham tersebut akan turun. Sedangkan, orang yang baru membeli di harga yang sudah cukup tinggi, tidak sempat menikmati keuntungan karena harganya sudah bergerak turun, malah berpotensi mengalami kerugian (capital loss).

Pada umumnya, saham-saham yang dipom-pom pun tidak jarang merupakan saham gorengan yang berkapitalisasi kecil dan memiliki histori yang tidak likuid. Di bursa di berbagai negara maju seperti AS, praktek pom-pom saham dikategorikan sebagai manipulasi pasar. Lembaga seperti Federal Bureau Investigation (FBI) turut memberikan perhatian kepada isu ini di negeri Paman Sam tersebut.

Saham dan Kripto Anjlok, Saatnya Investasi ke P2P Lending?

Sedangkan di Indonesia, berdasarkan Undang-undang No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, disebutkan adanya larangan promosi emiten ke publik. Hal ini merupakan bagian dari undang-undang untuk melindungi keperluan dan kepentingan investor. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *