Mengenal Bank Digital dan Regulasinya di Indonesia

1 min read

Bank Digital: Definisi dan Regulasi

Internet saat ini telah mengubah wajah Dunia. Kehadiran internet pun diketahui mampu mempermudah berbagai keperluan masyarakat, termasuk mengakses layanan perbankan.

Sebelumnya, internet telah mempermudah kehadiran layanan perbankan digital. Adapun, layanan ini sendiri mempermudah para nasabah dalam mengakses berbagai fitur perbankan.

Pada awalnya, layanan ini menggabungkan digital banking dan mobile banking dalam satu wadah. Layanan digital banking biasanya merujuk pada berbagai fitur untuk mengakses layanan perbankan melalui situs web bank yang bersangkutan. Nasabah bisa melakukan log in akun ke dalam situs web tersebut untuk mengecek saldo, membayar tagihan, mengajukan pinjaman atau kartu kredit, maupun layanan perbankan tradisional lainnya.

Sementara itu, mobile banking adalah pemanfaatan layanan perbankan melalui aplikasi mobile yang terpasang di smartphone nasabah. Aplikasi yang digunakan adalah aplikasi resmi yang dikeluarkan dan dimiliki oleh pihak bank. Biasanya, akun yang digunakan untuk log in aplikasi mobile banking sama seperti log in di portal situs web bank.

Perlu kamu tahu, Bank Digital sebenarnya tidak sama dengan layanan digital banking ataupun mobile banking. Berikut penjelasannya!

Definisi Bank Digital

Dilansir dari laman Temenos, definisi bank digital adalah seluruh kegiatan perbankan yang bisa dilakukan secara penuh dengan internet. Yang paling utama, bank digital ini diketahui mampu memberikan layanan pembukaan dan penutupan rekening secara online. Tentunya, administrasi rekening semacam ini tidak bisa terjadi di bank pada umumnya. Kamu harus tetap pergi ke bank untuk menyelesaikan hal tersebut.

Terlebih lagi, bank digital biasanya juga menawarkan tools manajemen keuangan yang unik di aplikasinya. Nasabah diberikan kemudahan untuk menabung atau mengatur perputaran uang bulanan. Ada pula bank digital yang belum memiliki fitur-fitur ekstra nan menarik, tapi mereka menawarkan hasil persentase tahunan (APY) yang lebih tinggi.

Pada umumnya, bank digital memiliki fitur untuk memudahkan nasabahnya mengakses tabungan, mengajukan pinjaman, dan juga berinvestasi untuk masa depan. Bisa dibilang, bank digital adalah sebuah brand tersendiri dari bank induknya.

Adapun, saat ini yang banyak dilakukan adalah transformasi bank kecil menjadi bank digital. Beberapa di antaranya adalah PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB), PT Bank Jago Tbk. (ARTO), PT BCA Digital, dan PT Bank Harda Internasional Tbk. (BBHI).

Regulasi Bank Digital

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diketahui hingga saat ini masih berupaya membuat regulasi pendirian bank digital. Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK Anung Herlianto menargetkan beleid dapat rampung dalam waktu dekat dan para pelaku bank digital diharapkan dapat memenuhi persyaratannya paling lambat tahun 2022.

“Sebelum pertengahan tahun ini, mudah-mudahan sudah akan kami rilis POJK ini,” ucap Anung dalam sebuah konferensi pers kala itu.

Salah satu aspek yang akan diatur adalah modal minimum pendirian bank digital. Jika seseorang ingin mendirikan bank dari nol, maka modal minimumnya adalah Rp10 triliun.

Pada kasus akuisisi dari bukan kelompok bank seperti Bank Jago dan SEA Bank, maka modal minimumnya cukup Rp3 triliun. Jika akuisisi dilakukan dalam satu kelompok bank seperti Bank Digital BCA, modal minimumnya cukup Rp1 triliun.

OJK juga hanya mewajibkan bank memiliki satu kantor saja. Selanjutnya perusahaan cukup memiliki skema model bisnis yang jelas, kemampuan teknologi informasi, mitigasi serangan digital, sampai tata kelola perlindungan data pribadi nasabah.

Syarat-syarat ini sendiri sebenarnya belum final. Anung mengatakan ketentuan masih dapat berubah lantaran OJK masih menerima masukan dari para pemangku kepentingan.

Well, itulah serba-serbi seputar bank digital, terutama dari definisi dan regulasinya. Semoga informasi ini bermanfaat buatmu ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *