Mengapa Saham Menjadi Undervalued?

1 min read

Investasi Saham, Investasi Penuh Risiko

Apakah kamu sudah mengenal istilah saham undervalued? Pada dasarnya, saham undervalued adalah saham-saham yang harganya sudah murah secara fundamental.

Jika tidak percaya pada hipotesis pasar yang efisien, kamu dapat mengidentifikasi alasan mengapa saham diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya.

Berikut adalah beberapa faktor yang dapat menyeret harga saham turun dan membuatnya menjadi undervalued!

1.  Pergerakan Pasar dan Herd Mentality

Terkadang orang berinvestasi secara tidak rasional berdasarkan bias psikologis daripada fundamental pasar. Saat harga saham tertentu naik atau saat pasar keseluruhan naik, mereka membeli. Mereka melihat bahwa jika berinvestasi 12 minggu yang lalu, mereka dapat memperoleh 15% sekarang, dan mereka mengembangkan rasa takut ketinggalan dalam membeli saham.

Sebaliknya, ketika harga saham jatuh atau ketika pasar secara keseluruhan sedang menurun, penghindaran kerugian memaksa orang-orang tersebut untuk menjual saham mereka. Jadi, alih-alih menyimpan kerugian di atas kertas dan menunggu pasar berubah arah, mereka menerima kerugian tertentu dengan menjualnya.

Perilaku investor seperti itu begitu meluas sehingga mempengaruhi harga saham individu, memperburuk pergerakan pasar ke atas dan ke bawah sehingga menciptakan pergerakan yang berlebihan.

2.  Pasar Sedang Terguncang  

Ketika pasar modal mencapai titik tertinggi yang luar biasa, biasanya itu menghasilkan bubble. Tetapi karena levelnya tidak berkelanjutan, investor akhirnya panik, yang menyebabkan aksi jual besar-besaran. Hal ini mengakibatkan jatuhnya pasar modal.

Itulah yang terjadi di awal tahun 2000-an dengan gelembung dotcom, ketika nilai saham teknologi melonjak melebihi nilai perusahaan. Hal yang sama juga terjadi ketika bubble perumahan meledak dan pasar modal jatuh di pertengahan tahun 2000-an.

3.  Saham yang Kurang Terkenal dan Tidak Diperhatikan   

Perhatikan apa yang kamu dengarkan saat menyaksikan siaran berita. Kamu mungkin menemukan peluang investasi yang sangat bagus dalam saham-saham yang undervalued yang mungkin tidak ada dalam radar orang-orang seperti kapitalisasi kapitalisasi kecil atau terdengar asing.

Sebagian besar investor menginginkan hal besar berikutnya seperti permulaan teknologi alih-alih produsen barang tahan lama konsumen yang membosankan dan mapan. Misalnya, saham seperti Facebook, Apple, dan Google lebih mungkin terpengaruh oleh investasi mentalitas kelompok daripada korporat besar seperti Procter & Gamble atau Unilever.

4.  Kabar Buruk  

Bahkan perusahaan yang baik pun menghadapi kemunduran, seperti litigasi dan penarikan kembali. Namun, hanya karena sebuah perusahaan mengalami satu peristiwa negatif tidak berarti bahwa perusahaan tersebut masih tidak bernilai secara fundamental atau sahamnya tidak akan bangkit kembali.

Dalam kasus lain, mungkin ada segmen atau divisi yang mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Tapi itu bisa berubah jika perusahaan memutuskan untuk melepaskan atau menutup lengan bisnis itu. Analis tidak memiliki rekam jejak yang bagus untuk memprediksi masa depan, namun investor sering panik dan menjual ketika perusahaan mengumumkan pendapatan yang lebih rendah dari ekspektasi analis.

Namun, value investor umumnya dapat melihat melampaui penurunan dan berita negatif justru menjadi momentum dalam membeli saham dengan diskon yang lebih besar karena mereka dapat mengenali nilai jangka panjang perusahaan.

5.  Siklus

Ini bisa didefinisikan sebagai fluktuasi yang mempengaruhi bisnis. Perusahaan tidak kebal terhadap naik turunnya siklus ekonomi, baik itu musim dan waktu, atau sikap dan suasana hati konsumen. Semua ini dapat mempengaruhi tingkat keuntungan dan harga saham suatu perusahaan, namun tidak mempengaruhi nilai perusahaan dalam jangka panjang.  

Well, itulah kelima faktor yang dapat menyebabkan sebuah saham menjadi undervalued. Semoga informasi ini bermanfaat buatmu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *