Jadi Warren Buffetnya Indonesia, Ini Profil Lo Kheng Hong

2 min read

Jadi Warren Buffetnya Indonesia, Ini Profil Lo Kheng Hong

Sebagai salah satu investor tersukses di Dunia, nama Warren Buffet tentunya menjadi sangat familiar di masyarakat. Pria berusia 90 tahun ini sukses memimpin perusahaan investasinya yakni Berkshire Hathaway hingga membuatnya menjadi salah satu orang terkaya di Dunia.

Nah, di Indonesia ternyata ada juga loh sosok yang dijuluki sebagai Warren Buffet dari Indonesia. Sosok itu bernama Lo Kheng Hong yang dianggap serupa dengan Warren Buffet lantaran sama-sama terjun dalam investasi saham dan menikmati keuntungan menakjubkan.

Lo Kheng Hong mendapatkan julukan sebagai Warren Buffet dari Indonesia karena keterampilannya dalam investasi saham dan penanaman modal. Meski begitu, perjalanan Lo Kheng Hong sebenarnya sangatlah jauh berbeda dari Warren Buffet. Berikut profilnya!

Perjalanan Hidup Lo Kheng Hong

Jika Warren Buffet lahir dari keluarga berada karena ayahnya adalah anggota parlemen di Amerika Serikat, Lo Kheng Hong justru lahir dari keluarga sederhana. Lahir di Jakarta pada tanggal 20 Februari 1959, Lo Kheng Hong dibesarkan oleh ayah dan ibunya yang berasal dari daerah terpencil di wilayah Pontianak.

Keduanya merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib hingga diterima bekerja sebagai karyawan di sebuah toko. Setelah lulus SMA, Lo Kheng Hong tidak lantas melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah lantaran keadaan ekonomi.

Walaupun hidup serba kesusahan, Lo Kheng Hong tetap mengutamakan pendidikan. Hal ini terbukti dengan semangatnya dalam menuntut ilmu di bangku kuliah. Pada tahun 1979, ia memulai kuliah malam jurusan Sastra Inggris di Universitas Nasional, Jakarta. Saat ia berkuliah, ia juga tetap bekerja sebagai pegawai tata usaha di PT Overseas Express Bank (OEB).

Memulai Investasi Saham

Jika Warren Buffet terjun ke dunia saham sejak berusia 11 tahun, hal ini berbeda jauh dengan Lo Kheng Hong yang baru menekuni investasi saham saat ia berusia 30 tahun. Meski begitu, investasi saham pertama yang dilakukan Lo Kheng Hong justru berujung kegagalan.

Kala itu, saham pertama yang dibeli Lo Kheng Hong adalah PT Gajah Surya Multi Finance Tbk. Lo Kheng Hong membelinya saat emiten tersebut melakukan penawaran saham perdana (IPO/Initial Public Offering) pada tahun 1989.

Namun karena harga sahamnya turun, Lo Kheng Hong terpaksa menjual saham tersebut dengan harga yang lebih rendah dibanding saat membeli. Kegagalan ini justru tidak membuat kapok, Lo Kheng Hong justru semakin rajin mempelajari dan membaca arah pasar moda, termasuk saham-saham emiten dengan prospek cerah.

Berhenti Bekerja dan Fokus Investasi Saham

Bekerja selama lebih dari 10 tahun di PT Overseas Express Bank (OEB), nyatanya tidak berhasil mengangkat Lo Kheng Hong ke jabatan yang lebih tinggi. Sampai akhirnya, ia pindah ke Bank Ekonomi pada tahun 1990.

Bekerja satu tahun, Lo Kheng Hong kemudian diangkat Kepala Cabang di bank tersebut. Ia bertahan bekerja di Bank Ekonomi hingga 6 tahun. Di tahun 1996, Lo Kheng Hong mengundurkan diri dari pekerjaannya karena ingin fokus investasi saham.

Setelah berhenti bekerja, waktu Lo Kheng Hong untuk memantau pasar saham semakin banyak. Ia pun terus memperkaya diri dengan ragam informasi seputar saham serta industri pasar modal, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Terhitung hingga tahun 2012, Lo Kheng Hong sudah mengelola sekitar 30 jenis saham. Ia mengalokasikan hampir seluruh asetnya untuk investasi. Ia bahkan hanya menyisakan sebesar 15% dari asetnya untuk dana darurat. 

Dari banyaknya saham yang telah digeluti oleh Lo Kheng Hong, ada dua saham yang terkenal memberinya keuntungan yang bombastis. Saham tersebut adalah UNTR (PT United Tractor Tbk) dan MBAI (PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk).

Lo Kheng Hong diketahui membeli saham UNTR pada tahun 1998. Saat itu terjadi krisis finansial. Meski begitu, ia tetap memilih untuk membeli saham UNTR di tengah krisis finansial. Di matanya, krisis finansial dinilai menawarkan peluang untuk bangkit.

Banyak saham yang harganya terjun payung, termasuk saham UNTR. UNTR sendiri merupakan distributor alat-alat berat merek Komatsu di Indonesia. Pada saat itu, Lo Kheng Hong membeli saham UNTR dengan seluruh modalnya.

Saat itu, harga saham UNTR adalah sebesar Rp 250 per saham. Lo Kheng Hong membeli sebanyak 6 juta lembar saham. Jika ditotal, maka uang yang dihabiskan Lo Kheng Hong untuk membeli saham UNTR adalah sebanyak Rp 1,5 miliar.

Selang enam hingga delapan tahun, ia menjual sahamnya pada kisaran harga Rp 15.000. Alhasil, ia memperoleh uang sebesar Rp 90 miliar dari hasil penjualan sahamnya dan menikmati keuntungan hingga 5.900%.

Setelah UNTR, Lo Kheng Hong kembali meraup keuntungan yang bombastis dalam saham MBAI, perusahaan yang merupakan perusahaan ternak ayam terbesar kedua di Indonesia. Pada tahun 2005, Lo Kheng Hong membeli saham MBAI yang pada saat itu seharga Rp 250 per saham.

Ia membeli sebanyak 6,2 juta saham dengan total harga sebesar Rp 1,55 miliar. Enam tahun berlalu, tepatnya pada tahun 2011, ia menjual saham tersebut dengan rata-rata harga sebesar Rp 31.500. Dari hasil penjualannya, ia meraup rupiah sebesar 195,8 miliar. Ini artinya ia menikmati keuntungan sebesar 12.500%.

Lo Kheng Hong merupakan salah satu contoh nyata dari investor yang sukses dan meraup untung besar dari pasar modal Indonesia. Meski begitu, perjalanan Lo Kheng Hong untuk meraih semua kesuksesannya tidaklah mudah dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Well, semoga menginspirasi kamu ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *