Investasi Saham, Investasi Penuh Risiko

1 min read

Investasi Saham, Investasi Penuh Risiko

Investasi saham di masa sekarang menjadi hal yang tidak asing lagi di masyarakat. Seiring gencarnya sosialisasi, perkembangan teknologi dan media sosial turut mendukung saham mulai dilirik masyarakat sebagai instrumen investasi.

Apalagi, banyak orang di masa sekarang yang menganggap keuntungan investasi saham disebut-sebut lebih menarik ketimbang keuntungan investasi lainnya. Investasi saham kini banyak dilirik orang karena dapat menambah isi pundi-pundi kekayaan dalam jumlah cukup besar walaupun besar juga risikonya.

Oleh karena itu penting mempelajari instrumen investasi saham sebelum berinvestasi. Jika sudah siap untuk investasi saham, pastikan juga perusahaan sekuritas yang dipilih telah berizin di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sebagai informasi, ketika berinvestasi di saham, sebenarnya ada beberapa keuntungan yang bisa kamu dapat yaitu dividen dan capital gain. Meski menawarkan keuntungan, investasi saham tetap punya risiko yang sama besarnya.

Bahkan, investasi saham sebenarnya bukanlah instrumen investasi yang cocok buat pemula. Jika kamu sebagai pemula nekat terjun ke investasi saham tanpa mempelajarinya terlebih dahulu, bisa-bisa uang yang kamu investasikan akan hilang seluruhnya.

Nah, berikut ini adalah beberapa risiko yang bisa kamu rasakan ketika berinvestasi saham:

1. Risiko Tidak Mendapatkan Dividen

Bagi hasil dari perusahaan ke investor sejatinya ditunjukkan dengan dividen. Meski begitu, ada konsep yang harus para investor saham pahami bahwa perusahaan tidak punya kewajiban untuk membagikan dividen. Keputusan untuk memberikan atau tidak membagikan dividen ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

2. Risiko Saham yang Dibeli Tidak Likuid

Saham yang tidak populer umumnya kurang diminati, hanya sedikit yang beredar sehingga sulit untuk menjualnya kembali. Jika kamu terjebak membeli saham yang tidak likuid, ada risiko akan kesulitan untuk menjualnya lagi.

3. Risiko Fluktuasi Harga Saham

Perlu kamu tahu tahu, harga saham akan berubah-ubah mengikuti mekanisme permintaan dan penawaran di pasar modal.

Ada dua jenis penyebab umum yang menyebabkan perusahaan mengalami penurunan harga saham, yaitu yang menyerang semua saham secara keseluruhan atau sering disebut risiko sistemik.

Sementara risiko yang hanya menyerang saham tertentu biasa dibilang sebagai risiko non sistemik. Contohnya, jika kamu memegang saham Medco, maka hanya gejolak harga minyak bumi yang akan mempengaruhi pergerakan harga saham tadi.

4. Risiko Saham Delisting

Delisting merupakan penghapusan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sehingga saham tidak bisa ditransaksikan lagi. Delisting dapat disebabkan permintaan sendiri atau pun karena keberlangsungan perusahaan terganggu.

5. Risiko Kehilangan Uang 100%

Ini merupakan risiko paling tinggi yang bisa kamu alami ketika berinvestasi saham. Meski jarang sekali terjadi, karena perusahaan yang kamu beli harus benar-benar bangkrut.

Kebangkrutan perusahaan bisa terjadi jika gagal membayar utang yang terlampau besar, sementara produk bisnisnya tidak berjalan sebagaimana seharusnya.

Jika perusahaan yang kamu beli sahamnya mengalami kebangkrutan, bisa dipastikan kalau uang yang diinvestasikan akan hilang 100%

Itulah beberapa risiko yang bisa didapat ketika berinvestasi di saham. Nah, buat pemula seperti kamu yang mungkin baru mulai berinvestasi, ada baiknya mencoba instrumen investasi lain yang lebih aman seperti P2P Lending Amartha.

Sebagai informasi, Amartha menawarkan keuntungan hingga 15% flat per tahun kepada investor yang mendanai mitra usaha. Amartha adalah perusahaan investasi yang aman karena sudah memiliki izin usaha dari OJK. Jadi, kamu tertarik menjadi pendana di Amartha?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *