Diminati Masyarakat, Ini Perkembangan Crowdfunding di Indonesia

1 min read

Diminati Masyarakat, Ini Perkembangan Crowdfunding di Indonesia

Banyak orang mungkin mengenal crowdfunding sebagai salah satu alternatif pendanaan yang sedang populer di Indonesia saat ini.

Seperti yang telah banyak diketahui, crowdfunding merupakan suatu sistem urun dana dari banyak donatur atau investor untuk membiayai suatu proyek, bisnis, maupun bantuan kemanusiaan.

Di Indonesia sendiri, sudah banyak startup yang mendirikan platform crowdfunding dan berhasil. Lantas, bagaimana sejarah dan perkembangan dari crowdfunding itu sendiri? Berikut pembahasannya!

Sejarah Crowdfunding

Istilah crowdfunding sendiri berasal dari dua kata yakni crowd dan funding. Crowd memiliki arti keramaian atau kerumunan. Sedangkan funding berarti pembiayaan atau pendanaan. Karena itu, crowdfunding dapat diartikan sebagai pendanaan oleh sekelompok orang atau juga merupakan bentuk inisiatif dari individu/tim/organisasi/entitas untuk melakukan pengumpulan dana demi mewujudkan suatu proyek.

Perlu diketahui, konsep crowdfunding ada sejak tahun 1700-an. Kala itu, lonsep crowdfunding tercatat telah diterapkan oleh penulis Jonathan Swift. Ia memberikan pinjaman kepada keluarga miskin di pedesaan Irlandia agar mereka bisa membuat usaha kecil tanpa melakukan pinjaman dana.

Di tahun 1976, konsep crowdfunding juga sudah diterapkan oleh Dr. Yunus melalui proyek mikrofinansial bersama Grameen Bank sejak tahun 1976. Melalui pembiayaan mikrokredit oleh Grameen Bank, penduduk miskin yang tidak memiliki modal atau memiliki ide usaha yang terlalu kecil untuk bisa dibiayai bank pada umumnya bisa mendapatkan modal dengan bunga di bawah rata-rata bank konvensional untuk memulai usaha.

Pada tahun 1997, sebuah band rock asal Inggris bernama Marillion berhasil mendapatkan dana untuk menggelar tur reuni mereka lewat sumbangan para penggemar yang dilakukan secara online. Hal ini yang membuat ArtistShare terinspirasi untuk mendirikan platform crowdfunding yang pertama di tahun 2000. Setelah itu, berbagai macam platform crowdfunding mulai bermunculan di seluruh dunia.

Investasi Sistem Equity Crowdfunding, Untung atau Rugi?

Menurut Bill Clark dalam buku The History & Evolution of Crowdfunding, crowdfunding sebenarnya tidak murni seratus persen berasal dari pengembangan penggalangan dana, tetapi merupakan evolusi dari pendanaan model microfinance.

Karena itu, seiring perkembangan teknologi, muncul platform crowdfunding yang berbasis microfinancial bermana Kiva. Kemudian, diikuti dengan munculnya munculnya platform crowdfunding lainnya seperti Kickstarter dan Indiegogo.

Perkembangan Crowdfunding di Indonesia

Indonesia juga tidak ketinggalan mengikuti perkembangan teknologi dunia, termasuk konsep crowdfunding ini. Semenjak gerakan ‘Koin Untuk Prita’ pada tahun 2009 dan ‘Koin Untuk KPK’, platform-platform crowdfunding mulai bermunculan di Indonesia.

Pada umumnya, platform crowdfunding dibuat dalam bentuk website. Dalam website ini, pencari dana bisa memberikan proposalnya untuk menjelaskan proyek atau bisnis yang ingin dilakukan. Sementara itu, calon donatur atau investor dapat melihat dan memilih kampanye mana yang hendak ia danai.

Crowdfunding juga mulai meluas cakupannya. Ia tidak lagi bergerak di sektor pendanaan modal bisnis, tetapi juga pada donasi untuk kemanusiaan. Model ini pun juga banyak disukai sebagai alternatif dalam mengumpulkan dan memberikan donasi. Perbedaannya, di sektor ini, dana yang diberikan bukanlah pinjaman, tetapi memang 100% diperuntukkan bagi penerima donasi.

Perkembangan crowdfunding di seluruh dunia juga terbantu dengan hadirnya berbagai platform transaksi digital dan mata uang digital seperti Bitcoin. Dengan kemudahan transaksi secara online, banyak orang yang semakin tertarik untuk menjadi pengguna platform crowdfunding sekarang ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *