Cara Siapkan Dana Pensiun untuk Freelancer

2 min read

The 4% Rule: Formula Siapkan Dana Pensiun

Menyiapkan dana pensiun sangat penting dilakukan oleh semua orang dalam menghadapi hari tua, termasuk freelancer yang penghasilan bulanannya tidak menentu.

Memutuskan menjadi freelancer artinya harus mampu mengelola dana untuk kebutuhan keuangan di masa mendatang, termasuk dana pensiun.

Berbeda dengan karyawan yang umumnya mendapatkan tunjangan pensiun dari perusahaan, seorang freelancer tidak memiliki keuntungan tersebut.

Ketiadaan tunjangan pensiun dan pola pendapatan yang cenderung tidak pasti menjadi tantangan terbesar bagi para pekerja mandiri agar tetap bisa mewujudkan masa pensiun sejahtera.

Nah, berikut ini adalah beberapa cara menyiapkan dana pensiun untuk freelancer!

1. Hitung Kebutuhan

Untuk bisa membuat rencana, tentu saja kamu harus punya tujuan. Begitu juga saat membuat rencana dana pensiun, buatlah tujuannya secara jelas, misalnya jumlah nominal dan jangka waktunya.

Yang perlu ditentukan adalah, pada usia berapa kamu akan pensiun atau tidak lagi memiliki penghasilan, asumsi usia harapan hidup, perkiraan dana yang dibutuhkan untuk hidup sehari-hari, juga waktu yang dimiliki untuk menyiapkan kebutuhan dana pensiun tersebut.

2. Pertimbangkan Dana Darurat

Sudah punya besaran kebutuhan dalam menyiapkan dana pensiun untuk freelancer, dana darurat jangan dilupakan. Justru, seiring dengan membangun dana pensiun, maka dana darurat juga mesti ditingkatkan.

Ingat, kamu akan butuh dana darurat lebih banyak, mengingat pekerjaanmu sebagai freelancer yang tidak punya penghasilan tetap dibandingkan pekerja kantoran. Setidaknya, kamu akan butuh dana darurat antara 9 – 12 kali pengeluaran bulanan. Itu yang paling ideal.

3. Sehatkan Keuangan Pribadi

Mengumpulkan dana pensiun termasuk rencana keuangan jangka panjang yang membutuhkan komitmen kuat. Maka itu, semakin dini memulai, akan semakin mudah bagi kamu untuk mewujudkan target dana kelak. Hanya saja, sembari mengumpulkan dana pensiun, pastikan keuangan pribadi kamu sudah cukup sehat.

Paling tidak ada dua hal yang perlu kamu cermati perihal kesehatan keuangan. Yaitu, beban utang dan kecukupan dana darurat. Apabila pendapatan yang dimiliki saat ini masih banyak tersedot oleh beban utang, akan lebih mendesak bagi kamu untuk menyelesaikan beban utang tersebut. Upayakan menjaga beban cicilan setiap bulan memakan tidak lebih dari 30% penghasilan rutin.

4. Siapkan Strategi Pengumpulan Dana Pensiun

Untuk mengumpulkan dana pensiun sejak sekarang, kamu bisa menimbang beberapa pilihan strategi. Pertama, mengikuti program Jaminan Hari Tua (JHT) BPJS Ketenagakerjaan secara mandiri. Bagi pekerja mandiri, kepesertaan JHT BPJS Ketenagakerjaan meminta kamu menyetorkan iuran sebesar 2% dari penghasilan yang dilaporkan.

Kedua, membuka rekening Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) pribadi. Prinsip DPLK tidak berbeda dengan JHT BPJS Ketenagakerjaan. Dana yang kamu setorkan akan dikelola oleh pengurus DPLK ke instrumen investasi dalam jangka panjang supaya bisa tumbuh tinggi.

Dana yang sudah terkumpul bisa diambil saat usia pensiun dan bisa juga dibelikan produk anuitas yang memberikan pendapatan rutin setiap bulan bagi kamu hingga tutup usia.

Ketiga, berinvestasi rutin di instrumen investasi yang mampu tumbuh tinggi. Beberapa instrumen investasi yang berpeluang tumbuh di atas inflasi ada cukup banyak. Misalnya reksadana, saham, obligasi jangka panjang, properti, ataupun Peer to Peer (P2P) Lending.

Investasi Peer to Peer (P2P) Lending merupakan salah satu jenis investasi yang belakangan ini populer serta sangat banyak dijadikan sebagai pilihan masyarakat. Investasi yang satu ini memungkinkan semua orang untuk memberikan atau mengajukan pinjaman satu sama lain tanpa menggunakan jasa dari bank sebagai perantara.

Semuanya diwadahi oleh perusahaan yang khusus bergerak di Peer to Peer (P2P) Lending. Berdasarkan jenis peminjamnya, P2P lending dibagi dua yaitu P2P lending konsumtif dan P2P lending produktif.

Disebut produktif karena peminjam dananya adalah para pengusaha mikro. Sementara itu yang konsumtif adalah P2P lending yang membebaskan peminjamnya menggunakan uang tersebut untuk apa pun. Dari segi tenor, P2P lending juga beragam. Ada yang setahun, dua tahun, dan bahkan ada hitungan hari saja.

Jika kamu ingin meminjamkan dana di P2P lending konsumtif, pilihlah yang tenornya dalam hitungan hari karena resikonya cukup besar. Namun jika sektor produktif, tidak masalah untuk memilih tenor setahun. Pada umumnya, Imbal hasil dari P2P lending berkisar antara 15 hingga 20 persen per tahun.

Nah, salah satu platform Peer to Peer (P2P) Lending Produktif yang aman dan tepercaya adalah Amartha. Sebagai informasi, Amartha adalah perusahaan pionir dalam layanan fintech peer to peer lending (P2P) yang menghubungkan pendana urban dengan pengusaha mikro di pedesaan.

Hingga saat ini tercatat sudah ada lebih dari 600.000 perempuan di seluruh penjuru Indonesia telah menjadi mitra Amartha untuk diberdayakan. Sudah berizin usaha dan diawasi OJK, sehingga Amartha merupakan Peer to Peer (P2P) Lending paling aman.

Selain itu, Amartha juga menggunakan sistem pengelolaan risiko terintegrasi di lapangan, teknologi, dan jaminan pendanaan dengan asuransi.

Dengan bergabung menjadi pendana di Amartha, kamu berarti telah berpartisipasi menciptakan dampak sosial yang nyata berupa kesejahteraan merata loh. Selain itu, kamu juga akan mendapatkan keuntungan hingga 15% per tahun dan cash flow mingguan. Menariknya, pembayaran angsurannya juga bisa bisa diambil kapan saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *