Bekerja Dari Rumah Bikin Keuangan Lebih Hemat atau Tambah Boros?

1 min read

Bekerja Dari Rumah Bikin Keuangan Lebih Hemat atau Tambah Boros?

Work From Home (WFH) atau Bekerja dari Rumah kembali diterapkan oleh sejumlah perusahaan untuk meminimalisir penyebaran virus seiring dengan meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia. Per tanggal 3 – 20 Juli 2021 pun pemerintah Indonesia menetapkan PPKM Darurat untuk Pulau Jawa dan Bali.

WFH sendiri bukanlah hal baru bagi karyawan di Indonesia. Pada gelombang pertama kasus penyebaran virus Covid-19 tahun 2020, WFH telah dianjurkan oleh pemerintah.

Mau Work From Bali? Ini Lho Perkiraan Biayanya!

Bagi karyawan, WFH memiliki sisi positif dan negatif. Dari sisi positif, karyawan yang sudah berkeluarga bisa memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga. Sementara sisi negatifnya adalah mendapat ganggguan dari anggota keluarha di rumah, waktu kerja yang kurang jelas, dan koneksi internet.

Meskipun demikian, banyak karyawan di Indonesia lebih memilih untuk bekerja dari rumah. Hal ini diungkapkan oleh hasil riset Microsoft Corp dengan judul The Next Great Disruption is Hybrid Work – Are We Ready?. Hasilnya, 83% karyawan Indonesia lebih memilih untuk WFH.

Pengeluaran Karyawan Saat WFH

Anjuran untuk WFH demi meminimalisir pandemi ini membuat sejumlah pemilik perusahaan mendesain ulang model kerja dan memberlakukan pemotongan gaji. Bagi karyawan, hal tersebut tentu berpengaruh pada pendapatan mereka.

Pengeluaran karyawan saat WFH umumnya seputar pada biaya internet, listrik, makan, dan minum. Dalam sejumlah kasus, ada karyawan yang tidak difasilitasi perangkat kerja oleh perusahaan sehingga harus membeli atau menggunakan perangkat sendiri.

Hal lain yang menjadi pengeluaran karyawan terlebih di saat pandemi dan WFH adalah biaya kesehatan yang disebabkan jam kerja yang menjadi lebih panjang daripada bekerja dari kantor.

WFH dan Sikap Bijak Kelola Keuangan

Sisi positif dari WFH dan pandemi yang tengah disadari oleh karyawan Indonesia adalah sikap untuk bijak dalam mengelola keuangan.

Adanya pemotongan gaji dan kejelasan situasi membuat sejumlah karyawan mengekplor berbagai hal yang bisa mendapatkan pundi-pundi untuk pemenuhan kebutuhan harian hingga dana darurat.

Ada berbagai macam cara yang dapat dilakukan, dimulai dari usaha rumahan baik makanan atau aksesoris hingga melakukan investasi.

Mengenai investasi sendiri, BEI mengutarakan telah terjadi peningkatan investor ritel di pasar modal selama tahun 2020.

Begitupun dengan Amartha, pionir fintech peer to peer lending yang menyalurkan modal kepada perempuan pengusaha mikro di pedesaan melalui pendampingan dan pelatihan usaha. Per 2020, Amartha mengalami peningkatan bisnis mencapai 12%.

Meskipun mayoritas mitra usaha Amartha yang mayoritas adalah pelaku UMKM menjadi korban terdampak pandemi, mereka tetap tangguh dalam menghadapi pandemi ini. Seperti halnya Ibu Kartini yang justru mengalami peningkatan omset selama pandemi dibanding sebelum pandemi.

Dengan berinvestasi di Amartha, para pekerja WFH tidak hanya mendapatkan bagi hasil hingga 15% per tahun tetapi turut memberdayakan perempuan pengusaha mikro di pedesaan. Dengan pengembalian setiap minggu, pendana bisa merasa gajian setiap minggu.

Tertarik berinvestasi di Amartha? Pelajari selengkapnya di sini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *