Apa Itu Value Investing? Yuk, Kenal Lebih Jauh!

2 min read

Apa Itu Value Investing? Yuk, Kenal Lebih Jauh!

Pernahkah kamu mendengar tentang istilah value investing?

Well, value investing pada dasarnya adalah strategi investasi yang melibatkan pemilihan saham yang tampaknya diperdagangkan kurang dari nilai intrinsik atau bukunya. Value investor biasanya secara aktif menemukan saham yang menurut mereka masih terhitung undervalued di pasar saham.

Umumnya, value investor percaya pasar bereaksi berlebihan terhadap berita baik dan buruk, mengakibatkan pergerakan harga saham yang tidak sesuai dengan fundamental jangka panjang perusahaan.

Mengenal Time Value of Money Yang Jarang Diketahui Banyak Orang

Reaksi berlebihan ini menawarkan kesempatan bagi para value investor untuk mendapatkan keuntungan dengan membeli saham dengan harga diskon supaya dapat dijual dengan harga berkali-kali lipat di masa yang akan datang.

Perlu kamu tahu, ada banyak sekali value investor di Dunia. Salah satu yang paling terkenal dan mungkin kamu tahu adalah Warren Buffet. Selain Warren Buffet, di Indonesia juga ada sosok Lo Kheng Hong sebagai value investor terpopuler.

Nilai Intrinsik dan Nilai Investasi

Di pasar modal, ekuivalen dengan saham yang murah atau didiskon adalah saat saham tersebut masih undervalued. Value investor berharap mendapat untung dari saham yang mereka anggap masih undervalued.

Value investor menggunakan berbagai metrik untuk mencoba menemukan penilaian paling tepat. Istilahnya adalah nilai intrinsik dari suatu saham.

Nilai intrinsik adalah kombinasi penggunaan analisis keuangan seperti mempelajari kinerja keuangan perusahaan, pendapatan, pendapatan, arus kas, dan laba serta faktor-faktor fundamental, termasuk merek perusahaan, model bisnis, target pasar, dan keunggulan bersaing.

Beberapa metrik yang digunakan untuk menilai saham perusahaan meliputi:

1.  Price to Book (P/B)

Nilai buku atau, yang mengukur nilai aset perusahaan dan membandingkannya dengan harga saham. Jika harga lebih rendah dari nilai aset, saham tersebut dinilai terlalu rendah, dengan asumsi perusahaan tidak dalam kesulitan keuangan.

2.  Price to Earnings (P/E)

Ini menunjukkan rekam jejak laba perusahaan untuk menentukan apakah harga saham tidak mencerminkan semua laba atau undervalued.

3.  Arus Kas Bebas

Kas yang dihasilkan dari pendapatan atau operasi perusahaan setelah biaya pengeluaran dikurangi. Arus kas bebas adalah sisa kas setelah biaya dibayar, termasuk biaya operasional dan pembelian besar yang disebut belanja modal.

Jika sebuah perusahaan menghasilkan arus kas bebas, ia akan memiliki sisa uang untuk diinvestasikan di masa depan bisnis, melunasi hutang, membayar dividen, maupun melakukan aksi buyback saham atau sering disebut go private.

Tentu saja, masih ada banyak metrik lain yang digunakan dalam analisis value investing, termasuk menganalisis utang, ekuitas, penjualan, dan pertumbuhan pendapatan.

Setelah meninjau metrik ini, value investor biasanya dapat memutuskan untuk membeli saham jika nilainya terhitung komparatif, yaitu harga saham saat ini jika dibandingkan dengan nilai intrinsik perusahaannya masih cukup menarik.

Strategi dan Risiko Menerapkan Value Investing

Contoh dari Value Investing

Pada dasarnya, value investor mencari keuntungan dari reaksi pasar yang berlebihan. Hal ini biasanya berawal dari rilisnya laporan pendapatan per kuartal dari setiap perusahaan yang listing di bursa saham.

Sebagai contoh nyata, pada tanggal 4 Mei 2016, Fitbit merilis laporan pendapatan Q1 2016 dan hal ini menyebabkan penurunan tajam dalam perdagangan di bursa saham.

Setelah jam perdagangan di bursa selesai, perusahaan ini kehilangan hampir 19% dari nilainya. Namun, meskipun penurunan besar dalam harga saham perusahaan tidak jarang terjadi setelah rilis laporan laba rugi, Fitbit tidak hanya memenuhi ekspektasi analis untuk kuartal tersebut tetapi bahkan meningkatkan pendapatannya selama tahun 2016.

Perusahaan memperoleh pendapatan $ 505,4 juta untuk kuartal pertama 2016, naik lebih dari 50% jika dibandingkan dengan periode waktu yang sama dari tahun sebelumnya.

Selanjutnya, Fitbit mengharapkan untuk menghasilkan antara $ 565 juta dan $ 585 juta pada kuartal kedua tahun 2016, yang berada di atas $ 531 juta yang diperkirakan oleh para analis.

Mau Mulai Investasi, Sudah Kenal dan Pahami Psikologi Investasi, Belum?

Perusahaan tersebut sebenarnya terlihat kuat dan berkembang. Namun, karena Fitbit banyak berinvestasi dalam biaya penelitian dan pengembangan pada kuartal pertama tahun ini, laba per saham (EPS) menurun jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Hal tersebut menyebabkan rata-rata investor di Fitbit menjual cukup banyak sahamnya untuk menyebabkan harga turun. Namun, value investor melihat dasar-dasar Fitbit dan memahami bahwa itu adalah titik undervalued dari saham tersebut. Value investor berpikir saham Fitbit akan siap untuk berpotensi meningkat kembali di masa depan.

Pada intinya, value investing adalah strategi jangka panjang. Warren Buffett, misalnya, membeli saham dengan tujuan untuk menahannya hampir tanpa batas waktu.

Menurut Warren Buffet, dia tidak pernah mencoba menghasilkan uang di pasar saham. Dia hanya membeli dengan asumsi mereka dapat menutup pasar pada hari berikutnya dan tidak membukanya kembali selama lima tahun.

Menurut Warren Buffet, banyak investor yang cenderung ingin menjual sahamnya ketika sudah mencetak keuntungan, terlepas besar atau kecilnya. Namun, buat Warren Buffet, dengan memegang berbagai saham dan mempertahankannya dalam prospek jangka panjang, kamu dapat menjual saham ketika harganya melebihi dari nilai wajarnya di pasaran.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *