Mengapa Bisa Merasakan Jatuh Cinta

0
292
Mengapa Bisa Merasakan Jatuh Cinta – Jatuh cinta, sebuah kata yang sekarang sedang digandrungi oleh remaja-remaja di dunia. Sebuah perasaan tertarik terhadap lawan jenis, baik itu dialami oleh si laki-laki terlebih dulu maupun sebaliknya. Tapi setiap remaja yang ditanya “Mengapa bisa jatuh cinta?” 
Jawabannya berbeda-beda, ada yang menjawab karena itu karunia Tuhan, karena itu sudah menjadi hakekat manusia. Semua jawaban memang benar. Tetapi taukah kita, secara ilmu pengetahuan juga bisa dijelaskan. Kenapa kita bisa merasakan jatuh cinta atau ketertarikan kita terhadap lawan jenisnya. Pas lagi berselanjar di Dunia maya saya temukan Penjelasan secara ilmu pengetahuannya sebagai berikut :

Jatuh cinta pada umumnya diawali oleh rasa ketertarikan antara dua orang berlainan jenis. Ketertarikan dipicu oleh senyawa kimia yang bernama feremon. Feremon (Pheremone) berasal dari bahasa Yunani, yaitu; phero (pembawa) dan mone (sensasi), jadi feremon dapat diartikan secara leksikal dengan pembawa sensasi. Senyawa feromon pada manusia dihasilkan oleh kelenjar endoktrin, yang terletak pada ketiak, wajah – telinga, hidung, mulut – kulit dan kemaluan. Kelenjar endoktrin dalam menghasilkan feromon akan bekerja efektif apa bila yang bersangkutan telah cukup umur (baligh).  

Sebagian besar ahli, berkesimpulan bahwa feremon yang memiliki sifat volatil (mudah menguap) dari tubuh seorang pria, direspon oleh seorang wanita melalui Vemero Nasal Organ (VNO), yaitu organ yang paling sensitif pada tubuh manusia, terletak di dalam lubang hidung. Konon, kepekaannya mencapai ribuan kali lebih besar daripada indra penciuman.

Dari sana kemudian terjadilah kontak pada kelenjar lain, hipotalamus (mengatur emosi manusia) dan merangsang pembentukan senyawa kimia lainnya; senyawa phenyletilamine (PEA),dopamine, nenopinepherin, endropin, dan oktosin. Ketiga senyawa – phenyletilamine (PEA), dopamine, nenopinepherin – akan memberikan respon tersipu-sipu dan malu ketika berpandangan dengan lawan jenis yang memikat hati.  

Menurut Eibl Eibesfeldt, seorang psikolog terkemuka, biasanya seorang wanita akan mengangkat alis dan membuka matanya lebar-lebar saat memandang seorang pria yang memikat hatinya, namun dia akan segera membuang muka atau menutupi wajah dengan telapak tangannya, lalu tertawa kecil dibalik telapak tangannya, saat pria itu berbalik memandangnya. 

Eibl Eibesfeldt mengatakan, gesture ini merupakan sinyal ketertarikan seksual. Sedangkan senyawa  endropin akan menimbulkan perasaan damai, tentram, dan aman. Dan senyawa oktosin berperan menjadikan rasa cinta itu rukun diantara keduanya. Asumsi sebagian para ahli di atas memberikan kesimpulan bahwa laki-laki tertarik pada wanita melalui penampilan fisiknya. Sedangkan wanita melalui senyawa feremon yang dilepaskan laki-laki. Ini berarti wanitalah yang memilih pasangannya atas penyeleksian dari senyawa feremon yang dilepaskan itu. Namun benarkah demikian? 
Menurut penulis ini tidak benar! Teori ini hanya berdasarkan sampel penelitian dari dunia binatang. Binatang tertentu melepaskan feremon untuk menandai daerah kekuasaan sekaligus memberikan sinyal ketertarikan kepada lawan jenisnya. Feremon itu dapat dideteksi dari jarak cukup jauh, sehingga berfungsi untuk menggantikan peran komunikasi verbal. Inilah penyebab sebagian ilmuan, melalui program ambisiusnya, menciptakan senyawa feremon untuk manusia (para pria), yang akan berfungsi sebagaimana layaknya minyak pelet penarik lawan jenis. 
Tapi yang musti kita pahami adalah kita tidak bisa menstitutibkan fenomena kehidupan binatang dengan kehidupan kita sehari-hari. Binatangdan kita merupakan 2 entitas berbeda. Perbedaan mencolok secara gamblang terletak pada struktur organ – termasuk otak yang berperan penting dalam memproduksi kelenjar hormonal – dan pengalaman. Misalkan dalam hal pembauan. Bau X akan direspon Y, di sisi lain manusia akan merespon Z. Hal sama juga terjadi dalam respon-tanggap terhadap warna, rasa dan lain-lain. Perbedaan itu disebabkan bedanya struktur organ – terutama otak – dan pengalaman. Oleh karena itu kita tidak dapat melakukan penukaran yang valid pada tantanan ilmu ilmiah.   

Menurut penulis, setiap masing-masing, baik laki-laki maupun wanita, sama-sama mengeluarkan senyawa feromon, dan direspon oleh masing-masingi ndividu. Artinya senyawa feremon yang dihasilkan oleh laki-laki tidak direspon oleh wanita, begitupun sebaliknya, melainkan direspon dengan dirinya sendiri. 

Lantas Apa yang Menstimulusi Produksi Senyawa Feromon oleh Kelenjar Endrokrin?


Jawabannya adalah ransangan otak atas impresi pengalaman yang dibentuk. Sebagaimana menurut Richard Dawkins, seorang profesor biologi molekuler, dari universitas Oxford, dalam bukunya berjudul The Selfish Gene ( 1978 ), bahwa (analog budaya dari gen yang bersifat biolog) akan berpengaruh pada konfigurasi saraf di otak manusia, dimana mem dipengaruhi impresi dogmatik sosio kultur.

Pustaka: Istanacinta.heck.in.