Misrisnya Nasib Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di Negeri Ini , Kembalikan Martabat Guru

0
347

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Timeslib.com  Miris nasib pahlawan tanpa tanda jasa di negri ini, Mungkin judul ini memang cocok untuk menggambarkan apa yang beberapa waktu terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Dunia pendidikan di Indonesia sudah bukan dunia antara Guru dan Siswa berinteraksi lagi. Namun kini lebih di anggap duni pendidikan sebagai guru yang melayani murid atas dasar hukum. ini hanya tulisan Opini yang Admin dasarkan dari apa yang admin tau.
Dunia pendidikan di Indonesia sekarang ini sudah bukan dunia pendidikan yang seperti dulu lagi. Sekarang Guru di kekang dan tidak dapat melaksanakan apa yang harusnya menjadi tugas utama mereka.  Atas dasar kemanusiaan  mereka tidak dapat melaksanakan tugas mereka.. demi tidak melanggar “Undang Undang Kemanusiaan” katanya.
Kita semua Tau Siapa itu Guru dan apa tuga Utama mereka. Tugas utama dari seorang Guru ialah membimbing anak didiknya, Mengingatkan kesalahan mereka dan memberikan pendidikan kepada mereka.
Sudah banyak contoh yang terjadi guna menggambarkan hilangnya martabat seorang guru sekarang ini. Bahkan beberapa waktu lalu kembali hangat diberitakan Guru yang dipolisikan karena menegur muridnya dan orang tua tidak terima akan hal itu. Bahkan beberapa hari yang lalu Salah satu orang tua siswa sampai memukul seorang guru hingga mengalami pendarahan di hidungnya hanya karena tidak terima anaknya di tegur oleh sang guru.

Berikut adalah beberapa kejadian yang cukup untuk menggambarkan Hilangnya Martabat seorang Guru karena menjalankan “Tugasnya”.

1. Pak Rahman, Guru SD yang diadili karena pukul siswanya menggunakan Penggaris.

Pada Juli 2010, Rahman, seorang guru di sebuah SD di Banyuwangi, Jawa Timur, harus berurusan dengan pengadilan setelah memukul anak didiknya menggunakan penggaris.
Kejadian bermula ketika Rahman melihat siswinya menangis setelah dipukul dan ditendang oleh temannya. Ternyata yang mengalami hal tersebut ada juga 3 siswi lainnya. Lantas Rahman memanggil siswa yang melakukan hal tersebut dan meminta berdiri di depan kelas. Setelah ditanya, siswa tersebut mengakui perbuatannya. 
Berniat menghukum siswa itu, Rahman lalu memukul kaki siswa tersebut dengan penggaris. Pulang sekolah, si siswa itu melapor ke ibunya dan ibunya tidak terima. Atas hal ini, pihak keluarga melaporkan kasus ini ke polisi. Jaksa lalu mendakwa Rahman dengan UU Perlindungan Anak. Dengan bukti-bukti yang ada, jaksa menuntut Rahman untuk dipenjara selama 5 bulan.
Tapi beruntung bagi Rahman, majelis hakim berpendapat lain. Menurut majelis hakim, pemberian sanksi berupa pemukulan pada betis kanan dan kiri bagian belakang dengan menggunakan penggaris kayu masih sesuai dengan kaedah pendidikan. Setelah dipertimbangkan, majelis hakim memutuskan untuk membebaskan sang guru.

2. Pak Aop Saopudin , Guru Honorer yang di adili dan di intimidasi karena mencukur rambut muridnya

Aop Saopudin, seorang guru honorer SDN Penjalin Kidul V, Majalengka, Jawa Barat harus berurusan dengan hukum hanya gara-gara mencukur rambut murid didiknya.
Berdasarkan dakwaan yang dikutip dari website Mahkamah Agung, Jumat (1/1/2016), kasus bermula saat guru honorer SDN Penjalin Kidul V, Majalengka, Jawa Barat, Aop Saopudin melakukan razia rambut gondrong di kelas III pada 19 Maret 2012. Dalam razia itu, didapati 4 siswa yang berambut gondrong yaitu AN, M, MR dan THS.
Mendapati rambut gondrong ini, Aop lalu melakukan tindakan disiplin dengan memotong rambut THS ala kadarnya sehingga gundul tidak beraturan. Sepulang sekolah, THS menceritakan hukuman disiplin itu ke ayahnya, Iwan.
 “Kamu hanya sekedar guru honor. Mau mengandalkan apa? Apa perlu saya membawa massa?” hardik Iwan ke Aop. Tidak hanya itu Iwan juga mencukur rambut sang guru sebagai balas dendam atas perbuatan pada anaknya tersebut.
Namun tak puas sampai disitu saja, Iwan juga melaporkan Aop ke pihak berwajib. Guru honorer itu pun dikenakan pasal berlapis yaitu tentan Perlindungan Anak dan tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan. Atas tuntutan itu, pengadilan negeri akhirnya menjatuhkan hukuman percobaan. Yaitu dalam waktu 6 bulan setelah vonis jika tidak mengulangi perbuatan pidana, maka tidak dipenjara. Tapi jika berbuat pidana, maka langsung dipenjara selama 3 bulan.
Namun beruntung bagi sang guru. Setelah mengajukan kasasi, Mahkamah Agung membebaskan Aop dari semua dakwaan dan menyatakan apa yang dilakukan Aop tidak melanggar hukum apa pun.
Hal sebaliknya dirasakan Oleh Iwan. Pengadilan Tinggi Bandung memutuskan untuk menjatuhkan hukuman penjara selama 3 bulan kepadanya atas dasar perbuatan yang ia lakukan kepada pak Aop.

3. Pak Sambudi, Diadili Karena Mencubit Muridnya

Pak Sambudi disidang karena salah satu orangtua murid, Yuni Kurniawan, tak terima anaknya, sebut saja SS, dicubit hingga memar.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jatim, Ichwan Sumadi, mengatakan penyidangan terhadap Sambudi tersebut berada di luar akal sehat.
Katakanlah, seorang guru itu mencubit siswa. Namun, yang dilakukannya itu dalam koridor mendidik. Itu yang dilakukan rekan kami Sambudi terhadap siswanya,” kata Ichwan kepada awak media. Ichwan menuturkan kejadian pencubitan itu bermula ketika Sambudi menghukum beberapa siswa SMP Raden Rahmat karena tidak melakukan kegiatan salat Dhuha.

4. Pak Dasrul, Dipukul Hingga Tulang Hidungnya Patah Karena Menegur Siswanya

Seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 2 Makassar, Dahrul (52), dianiaya oleh Adnan Achmad (43), seorang orangtua siswa, saat proses belajar berlangsung, Rabu (10/8/2016).
Seperti diberitakan, MAS dan ayahnya Adnan Achmad sudah ditetapkan menjadi tersangka atas kasus penganiayaan terhadap Dasrul. Dasrul juga menjadi tersangka karena laporan MAS yang mengaku dipukul oleh Dasrul.
Menurut pengakuan Dasrul, penganiayaan terjadi setelah ia memarahi dan memukul pundak MAS, karena tidak membawa alat menggambar. MAS yang tidak terima kemudian keluar kelas sambil melontarkan kata-kata kotor.
Ketika berada di luar kelas, MAS ternyata menghubungi orangtuanya. Dua jam berselang, ayah MAS datang ingin menemui kepala sekolah. Adnan dan Dasrul lantas berpapasan dan saat itulah MAS teriak “Itu gurunya“.
Mendengar teriakan anaknya, Adnan memukul wajah Dasrul. MAS pun turut melayangkan pukulan. Dasrul mengaku, ayah anak itu masing-masing memukul dirinya satu kali. Kejadian itu menyebabkan ia harus dibawa ke rumah sakit karena hidungnya mengeluarkan darah. Selanjutnya ia melapor ke Mapolsek Tamalate. Sementara pengakuan Adnan, dia refleks memukul setelah mendengar teriakan anaknya.
Atas Tindakan pengeroyokan yang dilakukan Bapak dan Anak ini, Mereka sudah di teapkan sebagai tersangka dan akan segera di adili. Sedangkan untuk MAS sudah jelas tidak akan dapat mendapatkan status SISWA di tempatnya belajar sebelumnya.
Dinas Pendidikan Kota Makassar melalui Sekretaris, Aryani Puspasari mengatakan akan mengambil tindakan tegas, yakni mengeluarkan MA (15) dari sekolah atas kasus pemukulan tersebut.
Saya meminta teman-teman media untuk mengawal ini. Tidak ada yang namanya toleransi terhadap kriminalisasi di dunia pendidikan. Kami tidak bisa menerima. Dengan itu saya sudah meminta kepada sekolah untuk memproses siswa yang bersangkutan untuk dikeluarkan dari sekolah. Tidak ada toleransi karena ini sudah tindakan kriminal,” kata Aryani.
Bahkan, Aryani mengatakan tidak akan membuka kesempatan kepada MA untuk melanjutkan sekolah di sekolah negeri akibat ulah teledor yang telah ditempuh bersama ayahnya tersebut.
Saya tidak peduli, yang jelas saya menutup pintu sekolah-sekolah negeri untuk dia. Di manapun dia pergi, karena institusi pendidikan kita sudah dicoreng. kami juga tidak mau ada gejolak dari oraganisasi guru kami. Makanya kami juga meredam karena ini sudah menginjak-injak martabat guru yang profesinya seharusnya sangat dihargai oleh masyarakat,” kecam Aryani.
Itu adalah beberapa contoh tindakan Guru yang melakukan apa tugas wajib mereka, namun malah mendapatkan hasil yang tidak di harapkan. Stop Generasi Lembek seperti ini, Sebagai Orang Tua juga cobalah untuk berfikir luas, Jika anak kalian mendapatkan hukuman atau teguran dari guru silahkan tanya anak kalian apakah mereka berbuat kesalahan atau tindakan lain yang mengakibatkan teguran tersebut.
Untuk Orang Tua siswa yang tidak igin anaknya di hukum atau di marahi oleh guru, Kalian dapat sekolahkan sendiri di rumah, Ajari mereka sendiri, Manjakan Mereka, Berikan Tugas Sendiri Ujian sendiri dan Luluskan sendiri . Dan selamat untuk orang tua yang tidak dapat menghargai pengorbanan dari seorang guru kalian sudah berhasil menjadi orang tua dari GenerasiMentalLembek.

#KembalikanMartabatGuru
#GenerasiMentalLembek

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here