“Pengemis Terminal Bus”

0
295
Namaku Devi, aku mahasiswi fakultas sosiologi disalah satu universitas di daerah Jakarta. Setiap hari, aku biasanya berangkat kuliah dengan menaiki bus kota karena jarak rumahku dengan universitas tempatku kuliah lumayan jauh. Entah sudah berapa puluh kali aku naik bus kota itu. Begitu seringnya, sampai-sampai dari para pedagang hingga pengemis yang suka berkeliaran di terminal hampir aku tahu semua.

Ada salah seorang dari beberapa pengemis di terminal itu yang lekat betul dengan ingatanku. Dia perempuan tua, berambut lurus, dan berkulit hitam. Setiap kali mengemis, perempuan itu selalu berjalan menelusuri tiap-tiap bus kota di terminal tanpa alas kaki sambil menggendong anak kecil. Sering muncul rasa iba dalam hatiku melihat anak kecil itu. Mestinya anak kecil itu bisa merasakan tidur yang nyenyak tanpa gangguan, dalam suasana sehat. Mestinya ia tidak harus terlibat dengan suasana terminal yang selalu ramai seperti ini. Untungnya anak itu tidak pernah merasa terusik oleh profesi ibunya dan keadaan sekeliling.
Akan tetapi, suatu hari tiba-tiba aku menyaksikan perubahan yang mengherankan pada wanita pengemis itu. Pengemis itu tidak lagi menjadi seorang pengemis. Dia sekarang beralih menjadi penjual gorengan. Aku heran campur kagum. Padahal seminggu lalu, ketika aku di terminal ini, aku masih melihat dia menjalankan profesi lamanya sebagai pengemis.
Kok, bisa berubah begitu cepatnya? Tanya diriku dalam hati. Sebenarnya rasa heranku itu didasari rasa senang. Aku merasa, perubahan profesi itu sangat bagus. Karena pikirku, lebih baik menjadi pedagang dari pada harus meminta belas kasih dari orang lain.

Hari itu sungguh membangkitkan rasa ingin tahuku. Karena itu, ketika wanita itu sedang berdiri sendirian di ujung gerbang, kudekati dia dengan pura-pura ingin beli.
“Berapa harga gorengannya bu?” tanyaku.
“Lima ratus rupiah mba.” jawabnya ramah.
“Yasudah, saya beli tiga ribu deh, campur saja bu, cabainya yang banyak.” sahut diriku.
“Iya mba.” jawab ibu itu.
“Oh iya, sejak kapan ibu jualan gorengan? Bukankah seminggu yang lalu ibu belum berjualan?” tanyaku perlahan, takut menyinggung perasaannya.
Perempuan itu tampak terkejut.
“Dari mana mba tahu?” tanyanya.
“Saya penumpang setia bus kota di terminal ini. Saya sering sekali naik bus dari terminal ini, makanya saya tahu betul kondisi disini, dari para pedagang, pengamen, hingga pengemis yang biasa berkeliaran di terminal ini. Saya senang dan kagum melihat semangat ibu mengubah nasib.”
“Ah, saya kira itu biasa. Siapa orang di dunia ini yang ingin menjadi pengemis seumur hidupnya?”
“Iya bu, benar itu. Tapi kenapa tidak dari dulu ibu melakukannya?”
“Karena saya tidak punya modal untuk berjualan.”
“Kan bisa pinjam modal dari orang lain bu?”
“Sulit mba. Mereka tidak percaya sama orang miskin kayak saya. Karena mereka takut saya tidak bisa mengembalikan pinjaman.”
“Maaf. Lalu bagaimana ibu bisa berjualan seperti ini? Dapat modal dari mana?” tanyaku heran.
Lalu, perempuan itu tersenyum.
“Saya kumpulkan sebagian uang dari belas kasihan orang-orang. Dan ini hasilnya. Karena bagaimana pun juga, saya menginginkan perubahan nasib yang lebih baik. Semula saya tak pernah bermimpi melakukan pekerjaan rendah itu. Keadaan dan tanggung jawablah yang menuntut saya melakukannya. Suami saya hanya buruh tani, sedang anak-anak butuh makan.” Ujarnya sambil mengasih gorengan pesananku tadi kepadaku.
Aku termenung mendengar ucapan ibu itu. Hidup itu memang keras. Tiba-tiba aku teringat akan keadaanku sendiri. Aku sebenarnya tak jauh berbeda dengan wanita itu. Bedanya, aku berusaha mengubah nasib dengan kuliah. Tapi aku tak pernah menyesal. Bahkan kini aku lebih bersyukur karena ternyata aku masih bisa terus berkuliah walaupun aku hidup sederhana.
“Tidak ada kembaliannya mba. Apa tambah gorengannya lagi biar pas uangnya?” Tanya ibu itu sambil menyodorkan kembali uang yang baru kuberikan.
“Tidak usah bu, gorengan ini sudah cukup buat saya. Yasudah, kembaliannya ibu ambil saja.” Kataku.
“Terima kasih mba.” balas ibu itu dengan senyum.
Dan hari itu aku pulang kerumah dengan snyum dan hati yang lebih bahagia. Bahagia karena bisa membahagiakan orang lain, meski hanya kecil. Memberi dorongan semangat pada ibu yang ulet itu untuk terus melanjutkan perjuangannya. Sementara aku sendiri memperoleh dorongan semangat darinya.
Beberapa hari kemudian setelah hari itu, aku kembali bertemu ibu itu di terminal. Seperti orang yang sudah sangat akrab, ibu itu menegur diriku yang baru saja turun dari bus kota.
“Mba?” sahut ibu itu.
Aku pun menoleh kebelakang, dan menghampirinya.
“Iya? Ada apa bu?” jawabku.
“Oh nggak kenapa-kenapa mba. Saya cuma menegur mba saja.” jawabnya.
“Oalah, saya kira ada apa.” Sahut diriku.
“Oh iya mba, ini saya kasih gorengan saya. Kebetulan tinggal sedikit, ini buat mba aja.” Sahut ibu itu sambil menodongkan plastik berisi penuh gorengan.
“Wah, terima kasih banyak nih bu. Tapi saya sudah kenyang, tadi sudah makan di kantin kampus.” Jawabku.
“Yasudah, terima saja mba. Ambil aja bawa pulang, buat adik-adik mba.”
“Hmm… Okelah bu, ini saya ambil. Terima kasih banyak ya bu.” Sahutku.
“Iya, sama-sama mba. Saya cuma bisa ngasih sedikit saja dari rezeki saya hari ini. Jangan dilihat hasilnya, tapi lihatlah keikhlasannya.” Jawab ibu itu.

Begitulah sedikit ceritaku, dan semoga ini juga bisa menjadi semangat kalian untuk berjuang merubah nasib untuk yang lebih baik. Kita jangan menyerah dan pasrah terhadap keadaan ekonomi. Masih banyak orang-orang diluar sana yang lebih membutuhkan dari pada kita. Bersyukurlah terhadap nikmat yang ada. Dan ingat, kita harus tetap saling berbagi, mengasihi dan menyayangi terhadap sesama.