Garis Pantai Terus Mundur Akibat Abrasi ‘Gila’ Dan Bisa Mengancam Kedaulatan NKRI

0
279
Garis pantai di utara Pulau Jawa terus mundur dengan tingginya laju abrasi akibat kerusakan di kawasan pesisir. Untuk itu, penyelamatan harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan semua pihak.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, Semarang, Johannes Hutabarat, akhir pekan lalu memaparkan hal itu dalam lokakarya “Kebijakan Pembangunan di Darat dan Dampaknya terhadap Pesisir Laut” di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Ia menjelaskan, kemunduran garis pantai tertinggi terjadi di Sayung, Demak, yaitu 175 meter sejak 2010 hingga pertengahan 2014. Bahkan, sebuah desa tenggelam akibat abrasi. Angka kemunduran garis pantai yang tinggi juga terjadi di Pemalang, yakni 107 meter, dalam kurun waktu sama.
Di daerah lain, garis pantai rata-rata mundur 50 – 80 meter.
Kerusakan pesisir memengaruhi ekosistem laut. Luasan ekosistem terumbu karang di Jateng turun dari 1.377,18 hektare pada 2011 menjadi 987,62 hektare pada 2012. Dari jumlah itu, terumbu karang yang dalam kondisi baik hanya 404 hektare dan luasan yang rusak 577 hektare. Sisanya dalam kondisi sedang.
Menurut Johannes, kerusakan akibat pembangunan yang mengabaikan lingkungan. Reklamasi di Kota Semarang, misalnya, berdampak besar terhadap abrasi di pesisir Demak.
Karena itu, perlu penanganan darurat dengan melibatkan perusahaan yang telajur punya kawasan pesisir. “Yang bisa dilakukan adalah membangun alat pemecah ombak dari ranting mangrove,” ujarnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jawa Tengah Heru Setiadi menyebutkan, abrasi tertinggi terjadi di Kabupaten Brebes seluas 2.115 hektare, diikuti Demaik 1.016 hektare, dan Rembang 852 hektare. Total abrasi di Jateng 6.566 hektare dan ada sedimentasi 12.585 hektare.
Tak hanya di pulau jawa, abrasi juga terjadi di pulau sumatera, salah satunya Bengkulu. Laju abrasi di Bengkulu mencapai 2,5 meter pertahunnya.

Perubahan iklim yang berakibatkan laju abrasi menggila merupakan ancaman tersembunyi yang serius bagi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Demikian sepenggal pernyataan dari Hery Suhartoyo, staf pengajar Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.
Suara bariton Hery semakin bersemangat ketika ia memberikan argumentasinya, Perubahan iklim dan laju abrasi menurut dia satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam proses pemecah kedaulatan NKRI dari sisi geografi. 
“Dapat diprediksi jika daratan terus tergerus akibat hantaman ombak, seperti Bengkulu, Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) akan semakin mengecil ke daratan, ini berpengaruh sangat signifikan namun tak terasa, Pulau terluar Bengkulu, yakni Enggano juga ikut tergerus,” kata Hery saat di jumpai di ruang kerjanya.
Dia mengungkapkan, hasil riset yang pernah ia lakukan pada 2013. Bengkulu memiliki garis pantai sepanjang 525 kilometer ditempati enam kabupaten dan satu kota mengalami laju abrasi cukup akut. Laju abrasi di pesisir Bengkulu per tahunnya mencapai 2,5 meter.
“Persoalan ini sebenarnya tidak saja terjadi di Bengkulu tetapi membentang dari Lampung hingga Aceh, ini ancaman yang harus diantisipasi, ini problem karena Bengkulu berada di wilayah pantai barat berhadapan langsung dengan Samudera Hindia,” tambahnya.
Saat ini, frekuensi hujan dan badai tak dapat lagi diprediksi akibat pemanasan global yang mempengaruhi sistem iklim, hal ini terjadi sejak lima hingga 10 tahun ke belakang. Demikian juga dengan volume air laut yang terus bertambah akibat mencairnya es di beberapa wilayah dunia, kondisi ini menurutnya berkontribusi besar pada abrasi.
Rafly Kaitora, seorang Kepala Suku di Pulau Enggano, pulau terluar Bengkulu menceritakan, pulau yang memiliki luasan berkisar 40 hektare dengan jumlah penduduk berkisar 3.000 jiwa itu juga ikut tergerus abrasi.
“Setahun laju abrasi mengikis daratan Enggano mencapai satu meter, jumlah itu terus bertambah setiap tahun sehingga ancaman hilangnya pulau ini jelas terjadi,” bebernya.
Ditegaskan dia, penyelamatan Pulau Enggano sebagai pulau terluar Bengkulu wajib dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah jika tidak, luas daratan Enggano akan tergerus oleh naiknya permukaan air laut dan laju abrasi.
Saat ini terdapat dua pulau kecil di dekat Enggano hilang yakni Pulau Bangkai dan Pulau Satu— akibat abrasi dan naiknya permukaan air laut, kedua pulau tersebut merupakan pulau terluar tempat dimana ZEE mulai dihitung hingga sejauh 200 mil ke tengah laut.
Setali tiga uang dengan Hery Suhartoyo, Rafly Kaitora, Direktur Eksekutif Walhi Bengkulu, Benny Ardiansyah menyebutkan rata-rata per harinya laju abrasi di kawasan pesisir daerah itu mencapai 10 sentimeter hingga 30 sentimeter per hari, kecepatan abrasi juga terjadi jika terdapat aktivitas pertambangan dan kerusakan di wilayah pesisir.
“Kecepatan abrasi akan signifikan terjadi bila di sebuah kawasan terdapat aktivitas perusakan bibir pantai seperti tambang pasir dan batu,” kata Benny. Sepanjang 525 kilometer panjang pesisir Bengkulu dari data yang dimiliki Walhi setidaknya terdapat 128 desa bermukim memanjang mulai dari Kabupaten Mukomuko berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat, hingga Kabupaten Kaur berbatasan dengan Provinsi Lampung.
Koordinator Kebencanaan Woman Crisis Center (WCC) Cahaya Perempuan, Bengkulu, Nurcholis Sastro, mengungkapkan, secara ekstrem pada tahun 2040 sedikitnya 20 desa di kawasan pesisir daerah itu diprediksi akan menghilang akibat laju abrasi yang sangat tinggi.
“Saat ini jarak bibir pantai dengan permukiman penduduk sudah sangat dekat, bahkan ada beberapa rumah yang tepat berada di bibir pantai,” kata Nurcholis.
Tidak saja mengancam permukiman warga, jalan milik negara yang memanjang pantai ikut menjadi korban keganasan abrasi, kejadian terbaru adalah jalur llintas Bengkulu-Sumatera Barat tepatnya di Desa Serangai, Kecamatan Batik Nau, Kabupaten Bengkulu Utara ambles sepanjang 20 meter dengan kedalaman berkisar dua meter, mengakibatkan kemacetan hingga ratusan meter kendaraan.

Jalan tersebut merupakan peralihan dari jalan lama yang habis dikikis abrasi, hanya dipindahkan sekitar 500 meter dari jalan lama, namun lagi-lagi ambles padahal pembangunan belum genap enam bulan.

Tahan laju abrasi

Hery Suhartoyo hanya memberikan tips sederhana untuk menahan laju abrasi yang terus menggerus Bengkulu, bahkan lebih jauh Pulau Sumatera.

Pertama, pesisir laut lepas seperti Bengkulu harus diperbanyak penanaman vegetasi pantai, jika terdapat sungai dan lumpur maka tanaman mangroove adalah pilihan tepat. Langkah ini meski masih terbatas dilakukan namun telah mulai tumbuh dalam kesadaran masyarakat.

Kedua, jika tak terdapat lumpur maka tanaman pohon cemara laut, waru dan ketapang merupakan tanaman yang baik sebagai penahan laju angin dan pengikat tanah di pesisir pantai.

Walhi Bengkulu, memberikan masukan agar adanya kebijakan lintas provinsi dalam upaya penyelamatan Pulau Sumatera karena persoalan abrasi akut yang terjadi di pesisir Bengkulu merupakan ancaman bersama bagi keberadaan Sumatera termasuk penyelamatan pulau terluar.

Panjang Garis Pantai Indonesia Capai 99.000 Kilometer

Data dasar rupabumi wilayah Indonesia yang berlaku ternyata tak sesuai hasil survei di lapangan. Badan Informasi Geospasial (BIG) menyebutkan, total panjang garis pantai Indonesia adalah 99.093 kilometer.
Data baru itu merujuk hasil telaah teknik pemetaan Tim Kerja Pembakuan Nama Pulau, Perhitungan Garis Pantai dan Luas Wilayah Indonesia. Data ini melebihi panjang yang diumumkan PBB pada tahun 2008 lalu — 95.181 kilometer. Atau bahkan dari angka yang sering dipergunakan berbagai pihak sebelumnya — 81.000 kilometer.
Kepala BIG Asep Karsidi, menyatakan, tim kerja tersebut anggotanya dari lintas instansi. Sesuai ketentuan PBB, pengukuran panjang garis pantai dilakukan pada tinggi muka laut rata-rata. Maka data itu bisa berubah sejalan waktu atau diperbaharui berdasar hasil survei terbaru.
Menurut Kepala Pusat Pemetaan Kelautan dan Lingkungan Pantai BIG, Tri Patmasari, survei dilakukan tim kerja setiap tahun dalam rangka pembuatan peta lingkungan pantai Indonesia. Hasilnya yang berupa penamaan rupabumi lalu dilaporkan di dalam sidang United Nations Group of Experts on Geographical Names tiap dua tahun sekali.
Sementara jumlah pulau di Indonesia pun ikut diumumukan lagi, yaitu sebanyak 13.466 pulau. Ini berdasarkan survei toponimi Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi tahun 2007-2010. Survei pemetaan ini mengacu pada standar pengukuran dan definisi pulau yang ditetapkan oleh PBB: Pulau adalah objek yang masih tampak saat air laut pasang.